Home » Artikel » Artikel Mahasantri » Keindahan Perilaku: Modal Utama dalam Membangun Hubungan Sosial

Keindahan Perilaku: Modal Utama dalam Membangun Hubungan Sosial

Ma'had Aly Lirboyo 17 Mar 2025 423

Setiap interaksi sosial memiliki hubungan yang erat dengan sikap. Kita tidak dapat memungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri. Mereka, mau tidak mau, harus bersosialisasi dengan sesama dan diharapkan saling mengenal satu sama lain serta memberikan manfaat bagi orang lain. Sebagaimana dalam firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat: 13)

Berangkat dari ayat tersebut, penulis akan mengulas sedikit tentang kajian tasawwuf yang dipaparkan dalam kitab Mauidhoh al-Mukminin. Dalam hal ini, kita akan meninjau keutamaan saling berbelas kasih serta mempererat tali persaudaraan.

Welas Asih

Sikap welas asih atau kasih sayang sangat diperlukan dalam membangun hubungan sosial. Sifat ini diibaratkan sebagai sumber cahaya yang terpancar dari keindahan perilaku seseorang. Dari budi baik inilah (baca: akhlaq al-karimah) manusia akan menemukan kedamaian hidup. Keindahan perilaku yang terpancar dari sikap dan tingkah laku sehari-hari niscaya akan mengantarkan manusia kepada ketakwaan. Sebab, antara ketakwaan dan keindahan perilaku seseorang tidak dapat dipisahkan. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

أكثر ما يدخل الناس الجنة تقوى الله وحسن الخلق

Artinya: “Sesuatu yang lebih dominan menuntun manusia masuk ke dalam surga ialah bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik.”

Dalam hadits ini, seakan-akan korelasi masuknya manusia ke dalam surga disebabkan oleh ketakwaan dan keindahan budi pekerti. Namun, sejatinya, semua itu adalah karena rahmat-Nya, Gusti Allah SWT. Di samping itu, rahmat Allah SWT dapat dicapai oleh setiap manusia. Solusi utamanya adalah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (baca: takwa) serta bertingkah laku baik.

Akhirnya, dari sini timbul pertanyaan: bagaimana jika manusia tidak memiliki keindahan budi pekerti? Meninjau dari pertanyaan ini, ada baiknya kita memahami setiap langkah yang diambil oleh setiap manusia. Benar adanya bahwa manusia memiliki ‘potensi’ dalam memilih jalan hidupnya, meskipun sejatinya semuanya berada dalam kekuasaan-Nya. Namun, yang perlu diperhatikan adalah setiap tindakan yang diambil oleh manusia memiliki konsekuensinya tersendiri.

Dalam kitab Mauidhoh al-Mukminin dijelaskan bahwa keburukan tingkah laku akan memunculkan sikap permusuhan antar sesama, iri dengki, dan pertengkaran. Semua konsekuensi ini berasal dari efek samping yang ditimbulkan oleh bobroknya moral manusia, yang akan menimbulkan kerusakan dan keburukan di muka bumi. Ibarat kita menyulut api di antara tumpukan dedaunan kering.

Menyambung Tali Persaudaraan

Tali persaudaraan antar sesama dapat mendatangkan manfaat ketika dibangun di atas ketakwaan dan budi pekerti yang baik. Sebab, ketika tali persaudaraan dibangun atas dasar keburukan, akan tercipta sebuah komunitas yang mirip dengan komunitas Mafia Yakuza, atau gangster dan lain sebagainya. Dari semacam komunitas demikian, kelak hanya akan menimbulkan kerusakan antar sesama.

Oleh karena itu, persaudaraan seharusnya dibangun atas dasar kebaikan. Dari kebaikan tersebut, diharapkan akan muncul generasi-generasi manusia yang dapat memberikan manfaat bagi sekitarnya. Sebab, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang dapat memberikan kemanfaatan bagi orang lain.


Penulis: Trisno

(Mahasantri Marhalah Ula Semester III-IV Ma’had Aly Lirboyo Kediri)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Postingan Terkait
Meluruskan Arah Pembaruan Hukum Islam: Dari Rekonstruksi Menuju Kontekstualisasi

Redaktur

19 Agu 2025

Membedakan antara rekonstruksi dan kontekstualisasi hukum Islam

Semangat Memanusiakan Manusia di Hari Kemerdekaan: Interpretasi Sila Kedua Pancasila Perspektif Islam

Redaktur

17 Agu 2025

Merenungi makna Sila Kedua Pancasila di Hari Kemerdekaan RI ke-80

Pesan Kesetaraan dan Hikmah Perbedaan dalam Al-Qur’an

Redaktur

12 Agu 2025

Menggali pesan kesetaraan derajat perempuan dan hikmah di balik perbedaannya

Mengkaji Isu Feodalisme di Pesantren

Redaktur

07 Jul 2025

Bahtsul Masail mahasantri semester lima menelaah fenomena pengkultusan tokoh di ranah sosial-budaya keagamaan

الجوهر الغالي في اختصار الدورة العلمية مع الشيخ عوض الكريم عثمان العقلي

Redaktur

11 Jun 2025

الشيخ عوض الكريم عثمان العقلي أمين الأمانة العلمية بالمجمع الصوفي السودان يوضح حول حب الوطن من منظور كتب التراث

Cinta Tanah Air Ada Dalilnya, Begini Penjelasan Ulama Sudan

Redaktur

10 Jun 2025

Cinta tanah air memiliki landasan syariat yang kuat, berikut penjelasannya