Beranda » Artikel » Pesan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus di Wisuda Ma’had Aly Lirboyo: Ilmu, Amanah, dan Tanggung Jawab Mahasantri

Pesan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus di Wisuda Ma’had Aly Lirboyo: Ilmu, Amanah, dan Tanggung Jawab Mahasantri

Civitas akademika Ma’had Aly Lirboyo kembali menggelar perhelatan akademik Wisuda Mahasantri Marhalah Ula (M1) ke-7 dan Marhalah Tsaniyah (M2) ke-4 pada (27/2026). Acara yang berlangsung dengan khidmat ini menjadi momentum penting bagi para wisudawan untuk menapaki fase baru pengabdian keilmuan di tengah masyarakat.

Salah satu sesi yang paling menyita perhatian hadirin adalah mau’izhah hasanah dari Masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo, yang disampaikan oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus. Dalam paparannya, beliau menyampaikan nasihat, motivasi, sekaligus peneguhan identitas santri Lirboyo beserta tanggung jawabnya sebagai pembawa ilmu.

Ilmu sebagai Jalan Pengangkat Derajat

KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus membuka mau’izhah dengan menekankan kedudukan ilmu sebagai sarana utama pengangkat derajat manusia. Menurut beliau, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk menapaki jalan keilmuan, bahkan untuk menjadi ulama, selama disertai kesungguhan dan ketekunan.

Beliau kemudian menuturkan sebuah ilustrasi tentang santri dalem Lirboyo yang pulang ke kampung halaman, berkeluarga, lalu memondokkan anaknya hingga selesai. Kelak, anak tersebut justru dipersunting oleh seorang kiai. “Lihatlah,” dawuh beliau, “bagaimana ilmu mampu menyatukan dua keluarga dengan latar belakang yang berbeda.” Ilmu, dalam pandangan beliau, menjadi jembatan kemuliaan dan kesetaraan sosial.

Peringatan Keras bagi Orang Berilmu

Meski ilmu memiliki kemuliaan tinggi, KH. Kafabihi juga mengingatkan adanya ancaman besar bagi orang berilmu yang lalai. Mengutip dawuh muassis Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdul Karim (Mbah Manab), beliau menekankan pentingnya ngadep dampar terus belajar dan mengaji serta kesiapan mempertanggungjawabkan ilmu yang dimiliki.

Orang berilmu, tutur beliau, berada pada posisi ‘ala khatharin ‘azhim, yakni dalam ancaman besar: apakah ilmunya diamalkan dan diajarkan, atau justru ditinggalkan. Dalam konteks ini, beliau melontarkan kalimat yang menggetarkan hati para hadirin:

“Kiai yang nakal itu adalah kiai yang tidak mau membaca kitab.”

Menjaga dan Merawat Kebaikan

Lebih lanjut, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menegaskan bahwa tugas santri tidak berhenti pada berbuat baik, tetapi juga menjaga dan merawat kebaikan agar tetap berkesinambungan. Beliau mengutip perkataan Imam Al-Ghazali bahwa kebaikan yang tidak dilakukan secara terus-menerus tidak dapat disebut sebagai kebaikan sejati:

لَا خَيْرَ فِي خَيْرٍ لَا يَدُومُ، بَلْ شَرٌّ لَا يَدُومُ خَيْرٌ مِنْ خَيْرٍ لَا يَدُومُ

Artinya: “Kebaikan yang tidak dilakukan terus-menerus itu tidak baik, tapi keburukan yang tidak dijalani terus menerus itu lebih baik dari kebaikan yang tidak dilakukan terus menerus.”

Sebagai contoh, beliau menyebut kisah seorang alim alumni Lirboyo yang memiliki lima anak, namun tidak satu pun dimondokkan, sehingga semuanya tumbuh sebagai orang awam. Hal tersebut, menurut beliau, merupakan contoh kebaikan yang tidak dijaga. Maka dari itu, santri dituntut untuk melakukan hifzhul khair, menjaga dan merawat kebaikan agar tidak terputus.

Menempatkan Ilmu di Lingkungan yang Tepat

Pesan berikutnya ditujukan langsung kepada para wisudawan agar mampu menempatkan diri di lingkungan yang menghargai ilmu. Untuk memperjelas, KH. Kafabihi mengisahkan perjuangan Imam Sufyan Ats-Tsauri. Ketika berada di suatu tempat yang tidak menghargai ilmu, Imam Sufyan memilih hijrah demi menjaga dan mengembangkan ilmunya agar lebih bermanfaat.

Namun demikian, beliau juga mengingatkan bahwa para hamalatul ‘ilmi wajib menjaga muru’ah. Baik pengajar maupun pelajar sama-sama terikat oleh adab yang harus dijunjung tinggi.

Tiga Bekal Hidup Bermasyarakat

Dalam bagian yang beliau sebut sebagai sangu urip, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menyampaikan tiga bekal utama bagi wisudawan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pertama, menjadi manusia yang paling baik, yakni yang paling bermanfaat bagi sesama, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Kedua, menjadi tetangga yang baik, bukan hanya dengan berbuat baik, tetapi juga dengan tahammul dan menutup aib tetangga, sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali. Ketiga, menjadi kawan yang baik sekaligus selektif dalam pergaulan, karena pertemanan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Az-Zukhruf ayat 67.

Peran Strategis Santri di Tengah Masyarakat

Menjelang akhir mau’izhah, KH. Kafabihi kembali menegaskan peran strategis santri sebagai agen perbaikan sosial. Santri dituntut untuk menjadikan daerahnya sebagai lingkungan yang baik melalui nasyrul ‘ilmi, sebagai implementasi perintah Allah dalam QS. Ali Imran ayat 104 tentang dakwah, amar ma’ruf, dan nahi mungkar:

قال تعالى وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Hendaklah kalian semua merupakan umat yang menyeru kebaikan, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dan begitulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran:104)

Beliau menjelaskan bahwa makna “kebaikan” dalam ayat tersebut mencakup segala bentuk kebaikan yang sesuai adat setempat selama tidak bertentangan dengan syariat. Jika tiga unsur dakwah, amar ma’ruf, dan nahi mungkar terpenuhi, maka seseorang layak menyandang predikat khairu ummah sebagaimana QS. Ali Imran ayat 110.

Ulama, Syuhada, dan Jihad Zaman Kini

Dalam penutupnya, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menyoroti pentingnya menjaga akad dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari organisasi, perdagangan, hingga pernikahan. Kejujuran dalam berdagang bahkan disamakan Allah dengan derajat para syuhada.

Meski demikian, beliau menegaskan bahwa maqam tertinggi tetaplah ulama Al-‘Ulama Waratsatul Anbiya’. Jalan ulama adalah jalan panjang yang penuh kesabaran, berbeda dengan syuhada yang diibaratkan sebagai jalan pintas. Melalui ulama, manusia mengenal seluruh ajaran ibadah.

Beliau menutup mau’izhah dengan menegaskan bahwa jihad di masa kini tidak lagi sebatas jihad fisik, melainkan jihad ilmu yakni mengajarkan, mengamalkan, dan mengajak kepada kebaikan.

Acara ditutup dengan doa singkat agar seluruh hadirin memperoleh rida Allah, rida para guru, serta ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan. Hadirin pun menjawab doa tersebut dengan penuh kekhusyukan.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less