Beranda » Artikel » Daurah Ilmiah Ilmu Hadis Aswaja Bersama Syekh Dr. Muhyiddin Awwamah (2): Ilmu Mustholah Hadis Dari Bahasa hingga Otentikasi Sanad

Daurah Ilmiah Ilmu Hadis Aswaja Bersama Syekh Dr. Muhyiddin Awwamah (2): Ilmu Mustholah Hadis Dari Bahasa hingga Otentikasi Sanad

Dalam sesi daurah ilmiahnya, kali ini Syekh Dr. Muhyiddin Awwamah membuka wawasan tentang betapa pentingnya detail dalam Ilmu Hadis. Beliau menguraikan bagaimana presisi bahasa Arab dalam memengaruhi pemahaman teks hadis dan menyoroti kriteria validasi periwayat dalam Ilmu Mustholah Hadis sebagaimana berikut:

Presisi Bahasa dan Kedalaman Makna dalam Hadis

Syekh Muhyiddin Awwamah memulai daurahnya dengan menyoroti pentingnya presisi dalam bahasa Arab untuk memahami teks hadis:

  • Laqob (Julukan)

Dijelaskan bahwa laqob adalah julukan yang bisa mengandung pujian atau celaan. Penting untuk tidak menggunakan laqob yang tidak disukai seseorang, kecuali jika tujuannya adalah sebagai pembeda di antara banyak individu, seperti dalam konteks sanad hadis.

  • Perbedaan Wudu dan Wadhu

Beliau memberikan contoh perbedaan mendasar antara wudu (bersuci) dan wadhu (air yang digunakan untuk berwudhu). Analogi serupa juga berlaku pada sahur (perbuatan makan sahur) dan suhur (makanan sahur). Ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman etimologi kata dalam Ilmu Hadis.

Validasi Periwayat dan Relevansi Kitab Ilmu Hadis

Syekh Muhyiddin Awwamah juga membahas beberapa poin penting terkait validasi hadis dan literatur Ilmu Hadis:

  • Usia Periwayat Bukan Tolok Ukur Penolakan

Beliau membantah pendapat yang menolak hadis dari periwayat berusia di atas 80 tahun. Syekh Muhyiddin Awwamah menegaskan bahwa pendapat ini tidak valid, mengingat banyak sahabat dan kalangan tabi’in yang meriwayatkan hadis bahkan hingga usia di atas 100 tahun, menunjukkan bahwa integritas dan hafalan adalah kriteria utama, bukan usia.

  • Keautentikan Hadis

Keautentikan sebuah hadis dapat diverifikasi melalui penelitian sumber kredibelnya, seperti apakah riwayat hadis tersebut berasal langsung dari para sahabat atau bahkan dari Nabi Muhammad SAW. Ini adalah inti dari ilmu sanad.


Editor: A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari

Penulis: Ahmad Hilmy Abyan

(Mahasantri Semester III Marhalah Ula Ma’had Aly Lirboyo)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less