Dari Gua Tsur ke Madinah: Kelanjutan Sejarah Hijrah Rasulullah
- account_circle M. Farid Mujiburrahman
- calendar_month 19/07/2026
- visibility 25
- comment 0 komentar
- label Sirah Nabawiyah
Setelah bertahun-tahun berjuang di tengah kepungan intimidasi kaum Quraisy di Makkah, Rasulullah SAW akhirnya mengambil sebuah langkah besar. Beliau memutuskan berhijrah menuju kota baru yang telah siap menyambut cahaya Islam, yakni Madinah.
Perjalanan ini bukan sekadar pelarian dari ancaman kaum Quraisy. Hijrah merupakan strategi agung untuk menyelamatkan akidah umat Islam sekaligus membangun sebuah peradaban yang aman, damai, dan penuh berkah.
Pada malam keberangkatan, Rasulullah SAW berhasil keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pemuda Quraisy yang telah mengepung dan bersiap membunuh beliau.
Usai lolos dari kepungan tersebut, Rasulullah menemui Abu Bakar As-Shiddiq untuk memulai perjalanan hijrah yang telah direncanakan dengan matang.
Bersembunyi di Gua Tsur
Alih-alih langsung mengambil jalur menuju Madinah yang berada di sebelah utara Makkah, Rasulullah SAW dan Abu Bakar terlebih dahulu bergerak ke arah selatan menuju Gua Tsur. Langkah ini ditempuh untuk mengecoh kaum Quraisy yang sedang melakukan pengejaran.
Sesampainya di Gua Tsur, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan keadaan di dalam gua supaya aman bagi Rasulullah. Setelah itu, keduanya bersembunyi di sana selama tiga hari guna menghindari perburuan besar-besaran yang dilakukan oleh kaum Quraisy.
Sementara itu, para pemuda Quraisy yang semalaman mengepung rumah Rasulullah akhirnya menyadari bahwa orang yang berada di atas tempat tidur beliau ternyata Ali bin Abi Thalib. Mengetahui Rasulullah telah berhasil lolos, mereka pun naik pitam.
Kaum Quraisy segera mengerahkan orang-orang untuk mencari Rasulullah ke berbagai penjuru Makkah. Bahkan, mereka menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang mampu membawa Rasulullah kembali, baik dalam keadaan hidup maupun meninggal, atau sekadar menunjukkan tempat persembunyiannya.
Perburuan itu akhirnya membawa sekelompok orang Quraisy hingga ke kawasan sekitar Gua Tsur. Langkah kaki mereka terdengar begitu dekat. Bahkan, jarak mereka dengan tempat Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi hanya terhalang oleh mulut gua.
Menyadari para pengejar telah berada begitu dekat, Abu Bakar diliputi rasa takut. Kekhawatirannya bukan tertuju pada keselamatan dirinya, melainkan pada keselamatan Rasulullah dan kelangsungan dakwah Islam. Ketakutannya begitu mendalam hingga air matanya menetes.
Melihat sahabatnya diliputi kecemasan, Rasulullah SAW menenangkannya dengan penuh keyakinan:
لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا
Artinya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)
Ucapan di atas menunjukkan keteguhan hati Rasulullah dalam menghadapi situasi yang sangat genting. Beliau meyakini bahwa segala ikhtiar yang telah dilakukan akan disertai pertolongan dan perlindungan Allah.
Orang-orang Quraisy sebenarnya nyaris menemukan tempat persembunyian mereka. Seandainya salah seorang dari para pengejar itu melihat ke arah bawah telapak kakinya, niscaya keberadaan Rasulullah dan Abu Bakar akan diketahui. Namun, atas perlindungan Allah, hal tersebut tidak terjadi.
Setelah pencarian kaum Quraisy mulai mereda, Rasulullah dan Abu Bakar bersiap meninggalkan gua. Pada waktu yang telah ditentukan, Abdullah bin Uraiqith datang membawa dua ekor unta yang sebelumnya dititipkan kepadanya.
Dengan dipandu oleh Abdullah bin Uraiqith, rombongan kecil itu meninggalkan Gua Tsur pada waktu subuh setelah tiga hari bersembunyi. Mereka memilih jalur yang tidak biasa dilalui oleh para musafir agar tidak mudah ditemukan oleh kaum Quraisy.
Perjalanan menuju Madinah pun dimulai kembali. Rasulullah dan Abu Bakar menempuh jalur yang panjang dan penuh risiko, melintasi wilayah tandus, bebatuan, serta panasnya padang pasir. Akan tetapi, semua kesulitan tersebut tidak menyurutkan langkah mereka menuju tempat yang kelak menjadi pusat peradaban Islam.
Masjid At-Taqwa, Infrastruktur Perdana di Quba
Sesudah menempuh perjalanan panjang dari Gua Tsur, Rasulullah SAW akhirnya tiba di Quba pada hari Senin, 2 Rabiul Awal. Quba merupakan sebuah daerah yang terletak tidak jauh dari Madinah dan menjadi tempat persinggahan pertama Rasulullah sebelum memasuki pusat kota.
Kedatangan Rasulullah disambut dengan penuh kegembiraan oleh kaum Muslimin yang telah lama menantikannya. Di daerah tersebut, Rasulullah bermukim selama tiga hari dan mengawali pembangunan masyarakat Islam dengan mendirikan sebuah masjid.
Masjid itu kemudian dikenal sebagai Masjid Quba. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai masjid yang didirikan atas dasar ketakwaan sejak hari pertama. Allah SWT berfirman:
لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِ فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْا وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ
Artinya: “Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih berhak engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang gemar membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang membersihkan diri.” (QS. At-Taubah: 108)
Pembangunan masjid quba mengandung arti yang sangat penting. Masjid menjadi infrastruktur pertama yang dibangun Rasulullah selepas meninggalkan Makkah. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Islam harus dibangun di atas fondasi ketakwaan, ibadah, persaudaraan, dan kebersamaan.
Peristiwa tersebut sekaligus menandai dimulainya babak baru dalam perjalanan dakwah Islam. Selama kurang lebih 13 tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah dan para sahabat menghadapi berbagai bentuk gangguan dari kaum kafir Quraisy.
Mereka harus beribadah dalam keterbatasan, bahkan tidak jarang menyembunyikan keimanan demi menghindari penyiksaan.
Namun, di Quba, Rasulullah SAW telah dapat beribadah secara leluasa dan terang-terangan tanpa merasa takut akan gangguan kaum Quraisy. Setelah pembangunan masjid selesai, beliau melaksanakan shalat berjamaah bersama para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar dalam suasana yang penuh khidmat dan kekhusyukan.
Masjid Quba pun bukan hanya menjadi tempat melaksanakan shalat. Masjid tersebut menjadi simbol kebebasan beragama, persatuan umat, dan awal tumbuhnya masyarakat Islam yang lebih teratur. (Lihat: Muhammad Hudori Bek, Nurul Yaqin Fi Siroti Sayyidil Mursalin, h. 82)
Akhir Perjalanan, Awal Sebuah Peradaban
Selepas bermukim selama tiga hari di Quba, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan menuju Madinah pada hari Jumat. Karena jarak Quba dengan pusat Madinah tidak terlalu jauh, pada hari itu pula Rasulullah dapat mencapai kota yang sebelumnya dikenal dengan nama Yatsrib tersebut.
Sementara itu, kabar mengenai keberangkatan Rasulullah dari Makkah telah lama sampai kepada masyarakat Madinah. Mereka mengetahui bahwa Nabi yang selama ini dinantikan tengah menempuh perjalanan menuju kota mereka.
Setiap pagi, penduduk Madinah berbondong-bondong menuju Harrah, sebuah tanah lapang di sekitar Madinah yang dipenuhi bebatuan besar berwarna hitam. Di tempat itulah mereka menanti kedatangan Rasulullah. (Lihat: Muhammad Hudori Bek, Nurul Yaqin Fi Siroti Sayyidil Mursalin, h. 101)
Selama beberapa hari, mereka datang silih berganti sejak pagi. Penduduk Madinah berdiri dan memandang ke arah jalan yang diperkirakan akan dilewati Rasulullah. Mereka baru kembali ke rumah ketika terik matahari telah menyengat kepala dan tidak ada tanda-tanda kedatangan rombongan beliau.
Penantian itu akhirnya berakhir. Dari atas sebuah benteng, seorang pemuda Yahudi melihat rombongan Rasulullah datang dari kejauhan. Ia pun segera berseru kepada masyarakat Madinah:
“Wahai masyarakat Arab, inilah orang yang kalian tunggu-tunggu.”
Mendengar seruan demikian, penduduk Madinah bergegas keluar menyambut Rasulullah. Kegembiraan memenuhi seluruh penjuru kota. Wajah-wajah mereka tampak berseri karena sosok yang selama ini mereka nantikan akhirnya tiba dengan selamat.
Kebahagiaan yang terlihat pada hari itu disebut sebagai kegembiraan yang belum pernah disaksikan sebelumnya di sudut mana pun di Madinah. (Lihat: Ahmad Zaini Dahlan, As-Sirah an-Nabawiyah, vol. 1, h. 273)
Perempuan dan anak-anak turut menyambut kedatangan Rasulullah SAW dengan melantunkan syair:
طَلَعَ البَدْرُ عَلَيْنَا – مِنْ ثَنِيَّاتِ الوَدَاعْ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا – مَا دَعَا لِلَّهِ دَاعْ
أَيُّهَا المَبْعُوثُ فِينَا – جِئْتَ بِالأَمْرِ المُطَاعْ
“Telah terbit bulan purnama atas kami Dari lembah al-Wada‘”
“Wajiblah kami bersyukur Selama masih ada yang berdoa kepada Allah”
“Wahai engkau yang diutus kepada kami Engkau datang membawa ajaran yang ditaati”
Syair tersebut menggambarkan besarnya kecintaan dan kegembiraan penduduk Madinah atas kedatangan Rasulullah. Hingga kini, lantunan itu masih diabadikan dalam berbagai tradisi pembacaan maulid dan manakib Rasulullah sebagai bentuk penghormatan, pengagungan, dan ungkapan bahagia atas kehadiran beliau.
Tibanya Rasulullah SAW di Madinah menandai berakhirnya perjalanan hijrah dari Makkah. Namun, pada saat yang sama, peristiwa itu justru menjadi awal dari perjuangan yang lebih besar.
Di Madinah, Rasulullah tidak hanya melanjutkan dakwah, tetapi juga membangun kehidupan masyarakat yang berlandaskan iman, keadilan, persaudaraan, dan kedamaian.
Kaum Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan, masjid didirikan sebagai pusat kehidupan umat, serta hubungan antarkelompok masyarakat diatur dengan penuh kebijaksanaan.
Lihat: (Lajnah Bahtsul Masail Madrasah Hidayatul Mubtadiin, Fath al-Mubin fi Sirah Sayyid al-Mursalin [Kediri: Dar al-Mubtadiin, 2021], h. 10-20)
Dengan demikian, perjalanan dari Gua Tsur menuju Madinah bukan hanya penggalan kisah tentang upaya menyelamatkan diri dari pengejaran kaum Quraisy.
Perjalanan tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan masa penindasan di Makkah dengan lahirnya peradaban Islam di Madinah.
Hijrah pun mengajarkan bahwa perjuangan membutuhkan perencanaan, kesabaran, pengorbanan, dan keyakinan kepada pertolongan Allah.
Gua Tsur menjadi saksi perlindungan-Nya, Quba menjadi tempat diletakkannya fondasi ketakwaan, sedangkan Madinah menjadi awal berkembangnya peradaban Islam yang kelak menerangi dunia. (ed. Erfin)

Saat ini belum ada komentar