
Menumbuhkan Sikap Nasionalisme Melalui Pemahaman Sejarah
Selama ratusan tahun, jiwa para leluhur kita merasa terusik oleh keberadaan orang asing (mustasriqin) yang hendak mencuri kekayaan alam kita. Mereka merasa terganggu oleh dentuman bom dan suara tembakan yang menggema di telinga mereka. Akibatnya, leluhur kita tidak merasa tenang dalam melakukan aktivitas apapun, termasuk ibadah.
Sebagai warga tanah air, kita perlu melihat bagaimana para pahlawan dan leluhur memperjuangkan kemerdekaan negara kita agar bangsa ini dapat bergerak bebas memenuhi hak-haknya. Di era sekarang, kita tinggal menikmati keadaan yang terbebas dari diskriminasi para penjajah yang telah diusir oleh leluhur kita.
Menelisik Sejarah Masa Lampau
Dengan membaca sejarah, kita seakan hidup di masa itu, mengenal kondisi dan tokoh-tokoh yang ada. Membaca sejarah, di antara manfaatnya, adalah sebagai wasilah untuk menjadikan manusia yang merasa berterima kasih, baik kepada Tuhannya maupun kepada sesama. Ini adalah sunnatullah bahwa perbuatan baik seseorang kepada dirinya akan menumbuhkan rasa cinta kepadanya, sebagaimana dalam maqolah yang disampaikan oleh ulama:
الطَّبِيعَةُ مَجْبُولَةٌ عَلَى حُبِّ مَنْ أَحَسَنَ إِلَيْهِ
Artinya: “Karakter selalu menarik dirinya untuk mencintai orang yang berbuat baik padanya.”
Ada sebuah cerita menarik mengenai pengingat jasa para pahlawan. Dulu, saat Maulana Habib Lutfi diajak jalan-jalan oleh gurunya, Kyai Abdul Malik, beliau disuruh untuk berhenti sejenak di tengah perjalanan. Lalu, beliau bertanya kepada gurunya, “Lha wonten nopo, yai?” Gurunya menjawab, “Sakniki tepat jam 10 siang tanggal 17 Agustus, kita kirimkan fatihah untuk para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan untuk kita.”
Membaca sejarah memang tergantung pada cara pandang seseorang; tidak semua orang akan merasa menghargai jasa pelaku sejarah yang ia baca. Namun, apakah ini mencerminkan perilaku santri yang mengetahui mengapa ia harus menghormati gurunya? Ia sadar bahwa guru merupakan salah satu orang penting dalam mengatur urusan jiwa melalui haliyah atau maqolahnya. Oleh karena itu, ia memahami mengapa ia harus menghormatinya, tak lain adalah karena jasanya. Begitu pula seharusnya pandangan yang dibawa saat membaca sejarah, khususnya yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
Setelah seseorang mengetahui bagaimana rasanya hidup di zaman dulu, secara spontan rasa nasionalisme akan tumbuh dalam benaknya. Rasa nasionalisme inilah yang akan menjadi cikal bakal benteng dari segala kerusakan dan perpecahan dalam negara. Dalam hatinya, ia telah merasa memiliki negaranya. Sebagaimana yang telah maklum, seseorang yang merasa memiliki akan berusaha mempertahankan kemaslahatan yang ia miliki.
Namun, masalah yang sering muncul adalah kebingungan tentang kapan dan dari mana harus memulai. Pertanyaan ini menjadi kendala inti dari segala kendala. Namun, sebenarnya pertanyaan itu dapat dijawab jika seseorang memiliki minat yang tinggi. Menurut penulis, untuk menggali minat, mulailah dengan mencari dan membaca sejarah orang terdekat, seperti guru, kakek, atau sejarah perjuangan Rasulullah SAW. Dengan cara ini, sedikit demi sedikit, minat terhadap sejarah lainnya akan tumbuh.
Rekomendasi Pencarian Sejarah
Penulis merekomendasikan agar saat membaca sejarah, kita mengingat tahun lahir, umur, waktu meninggal, dan beberapa kejadian penting. Dengan mengetahui tahun, kita dapat memvalidasi sejarah tersebut saat berjumpa dengan sejarah lain. Sebagai contoh, bacalah cuplikan sejarah berikut ini:
“Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati pernah berkumpul bermusyawarah untuk menentukan arah kiblat. Karena Sunan Ampel dulunya bermazhab Hanafiyyah, beliau mengusulkan bahwa arah kiblat tidak harus tepat pada Ka’bah (‘ain al-qiblah), alias cukup dengan menghadap ke arah kiblat tidak secara tepat (jihhah al-qiblah). Toh, jika menggunakan ‘ain al-qiblah, akan sulit menentukan secara tepat—karena pada zaman itu belum ada media untuk menentukan kiblat. Sunan Kalijaga, yang termasuk ahli falak, tidak sepakat dengan usulan Sunan Ampel, lalu beliau menentukan arah kiblat secara tepat dan disepakati oleh para musyawirin.”
Cuplikan cerita tersebut menunjukkan bahwa Sunan Gunung Jati dan Sunan Ampel pernah bertemu dalam satu majelis. Namun, jika kita teliti, Sunan Ampel pertama kali masuk ke tanah Jawa pada tahun 751 H, saat berumur 20 tahun, sementara Sunan Gunung Jati pertama kali masuk ke tanah Jawa sekitar permulaan abad ke-10 Hijriyah (awal tahun 900 H-an). Sehingga, secara logika, tidak mungkin Sunan Gunung Jati bertemu dengan Sunan Ampel kecuali Sunan Ampel hidup hingga umur sekitar 150 tahun.
Di sisi lain, dengan mengetahui sejarah beserta tahunnya, seseorang akan menemukan hal yang berbeda dibandingkan dengan sejarah nabi terdahulu yang tidak diketahui tahunnya. Contohnya, sejarah Walisongo; jika hanya menceritakan kejadiannya saja tanpa mengetahui tahunnya, baik secara global maupun spesifik, maka yang dirasakan adalah seakan sejarah tersebut hanya dongeng belaka. Sebagaimana yang maklum, istilah dongeng telah membekas dalam jiwa seseorang terkait kebenaran asli ceritanya, dan tidak sepenuhnya dipercayai. Lain rasanya jika seseorang telah mengetahui tahunnya, seperti contoh berikut:
“Pasca meninggalnya Rasulullah SAW dan Khulafa ar-Rasyidin, kekuasaan pemerintah Islam diatur dengan sistem monarki yang dipimpin oleh Dinasti Umayyah, dilanjutkan dengan Dinasti Abbasiyyah, dan berakhir oleh kekuasaan Dinasti Utsmaniyyah. Dinasti Utsmaniyyah memimpin pemerintahan Islam kurang lebih 800 tahun dan baru runtuh pada tahun 1924 M disebabkan oleh gejolak politik kekuasaan yang dipimpin oleh Mustafa Kemal.”
Saat mengetahui tahun runtuhnya Dinasti Utsmaniyyah, pembaca sejarah akan merasa sedikit kaget bahwa ternyata Utsmaniyyah dianggap baru runtuh kemarin. Sehingga, secara spontan, hal tersebut akan menancap dalam hati pembaca mengenai sejarah yang ia baca.
Masih banyak hal yang harus diperhatikan dalam membaca dan meneliti sejarah, namun tidak semua dapat kami tulis dalam kesempatan ini. Semoga bermanfaat.
Penulis: Ibn Mahfudz
(Mahasantri Marhalah Ula Semester V-VI Ma’had Aly Lirboyo Kediri)
Ma'had Aly Lirboyo
17 Mar 2025
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri. Berikut ini modal utama dalam membangun interaksi sosial
Ma'had Aly Lirboyo
17 Mar 2025
Banyak orang yang mengatasnamakan jihad dan amar ma’ruf nahi munkar. Begini pemahaman dan implementasinya di Indonesia
18 Mar 2025 668 views
Kegiatan Safari Ramadhan merupakan wujud pengabdian yang luar biasa dari mahasantri Ma’had Aly Lirboyo dalam rangka menyebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin
17 Mar 2025 428 views
Mahasantri Beasiswa Cendekia Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Ma’had Aly Lirboyo mengadakan buka bersama dengan Yayasan Yatim Dhuafa Sahhala Mojoroto, Kediri.
26 Mar 2025 342 views
AT-TAHBIR: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Tafsir merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Bidang Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah (BP2KI) Ma’had Aly Lirboyo.

Comments are not available at the moment.