Mahasantri Ikuti Dauroh Hadits Aswaja Bersama Syekh Muhammad Awwamah dan Syekh Muhyiddin Awwamah dari Istanbul Turki
- account_circle A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
- calendar_month 28/06/2025
- visibility 597
- comment 0 komentar
- label Berita
Sebanyak 10 mahasantri terpilih tingkat Marhalah Ula Ma’had Aly Lirboyo bersama Dewan Dosen dan Asatidz mengikuti Dauroh Penguatan Ilmu Hadits Aswaja pada Sabtu, 28 Juni 2025.
Acara ini diselenggarakan oleh Awwamah Center Indonesia (ACI) secara daring melalui platform Zoom, disiarkan langsung dari Istanbul, Turki, mulai pukul 15.30 WIB hingga 17.00 WIB sore.
Kegiatan Dauroh Hadits tersebut rencananya akan diisi oleh Al-Muhaddits Syekh Muhammad Awwamah, Syekh Prof. Dr. Muhyiddin Awwamah, dan Syekh Prof. Dr. Ahmad Awwamah. Kegiatan Dauroh Hadits merupakan tindak lanjut dari kunjungan Prof. Dr. Syekh Muhyiddin Muhammad Awwamah Al-Husaini ke Indonesia pada awal tahun 2025 lalu.
Dalam kunjungan itu, Syekh Muhyiddin Awwamah telah menjalin kerja sama atau Memorandum of Understanding (MOU) dengan lebih dari 20 pondok pesantren di Indonesia, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
Kerja sama ini berfokus pada penyebaran manhaj (metodologi) ayahandanya, Syekh Muhammad Awwamah, serta bertujuan mencetak kader-kader ahli bidang ilmu Hadits di kalangan santri Indonesia yang berlandaskan pada manhaj Ahlussunah wal Jamaah.
Para peserta dari Ma’had Aly Lirboyo mengikuti dauroh tersebut di Auditorium Darul Mubtadiin. Perwakilan Dewan Mudir juga turut hadir dalam kegiatan ilmiah ini.

Dalam sesi dauroh tersebut, Syekh Muhyiddin Muhammad Awwamah menyampaikan beberapa poin krusial terkait ilmu Hadits. Paparan diawali dengan memperkenalkan karyanya yang dilengkapi dengan Tasyjir (skema atau diagram) untuk mempermudah pemahaman pembaca.
Beliau menjelaskan berbagai tingkatan yang harus dilalui dalam mendalami Ilmu Mustholah Al-Hadits. Ia lantas menguraikan kriteria bagaimana seseorang dapat dianggap benar-benar menguasainya.
Syekh Muhyiddin Muhammad Awwamah juga membedakan antara kitab rujukan (Marjiiyah) dan kitab pembelajaran (Dirosiyah), kitab Tadrib Ar-Rawi merupakan salah satu contoh kitab Dirosiyah.
Ia kemudian menerangkan bahwa tulisannya ada yang berupa Hawasyi (catatan pinggir) atas Syarah gurunya, Syekh Sirojuddin, yang mengulas Mandzumah Al-Baiquniyyah.
Selanjutnya, beliau memaparkan bahwasanya ada empat tahapan penting dalam belajar ilmu Hadits:
- Mustawa Al-Awwal (Tingkatan pertama): Membaca kitab Taudlih Ilmi Mustholah Al-Hadits Asy-Syarif (Manhajun Dirasiyun Bi Ar-Rasm Asy-Syajari). Karya beliau sendiri.
- Mustawa As-Tsaniyah (Tingkatan kedua): Mendalami kitab Hawasyi Madaniyah Ala Syarh Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah karya gurunya Fadhilatus Syekh Abdullah Sirajuddin. Kitab ini di berikan catatan kaki oleh beliau.
- Mustawa As-Tsalisah (Tingkatan ketiga): Mendalami Tadrib Ar-Rawi Fi Syarh Taqrib An-Nawawi. Karya Syekh Jalaluddin As-Suyuthi. Dengan footnote (ta’liq) dan syarah oleh Fadhilah Syekh Al-Allamah Muhammad Awwamah.
- Mustawa Ar-Rabi’ah (Tingkatan keempat): Mempelajari Al-Masail Al-Ushuliyyah Al-Mukhtalaf Fiha Baina Al-Hanafiyah wa Asy-Syafiiyah fi Bab As-Sunnah karya Dr. Muhyiddin Awwamah. Yang isinya menerangkan perihal perbandingan (muqaranah) antara mazhab Syafiiyah dan Hanafiyyah, mengingat adanya perbedaan pandangan di antara keduanya.
Setelah pemaparan materi yang cukup mendalam, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif bersama para peserta dauroh.
Momen ini menjadi kesempatan berharga untuk menggali lebih dalam berbagai persoalan dan memperjelas pemahaman terkait ilmu hadits. Terakhir, seluruh rangkaian kegiatan dauroh ditutup dengan doa lalu moderator mengakhiri sesi.
Giat dauroh semacam ini diharapkan dapat semakin memperkuat pemahaman mahasantri dan asatidz Ma’had Aly Lirboyo dalam bidang ilmu Hadits, khususnya yang berlandaskan pada manhaj Ahlussunah wal Jamaah.

Saat ini belum ada komentar