Home » Berita » Ma’had Aly Lirboyo Bedah Buku Nasionalisme Religius, Uraikan Sinergi Agama dan Negara

Ma’had Aly Lirboyo Bedah Buku Nasionalisme Religius, Uraikan Sinergi Agama dan Negara

Raden Muhammad Rifqi 11 Jan 2026 70

Dalam rangka memperkuat tradisi literasi dan diskursus keilmuan mahasantri, Ma’had Aly Lirboyo kembali menggelar kegiatan bedah buku. Kegiatan ini merupakan bedah buku ke-4 dari rangkaian program Literasi Peradaban Santri. Acara tersebut dilaksanakan pada Sabtu (10/1/2026) bertempat di Auditorium An-Nawawi.

Bedah buku ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Agus M. Sholahuddin Al-Ayyubi, M.Ag. dan Bpk. Husnul Muttaqin, M.Ag., yang merupakan bagian dari Tim Penyusun buku Nasionalisme Religius: Manhaj Kebangsaan Ulama Nusantara karya Wisudawan Ma’had Aly Lirboyo Tahun Akademik 2019–2020.

Acara tersebut dihadiri jajaran pimpinan Ma’had Aly Lirboyo, di antaranya Mudir tiga K. Arif Ridlwan Akbar beserta Dewan Mudir lainnya. Selain itu, turut pula pengurus Bidang Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah (BP2KI) Ma’had Aly Lirboyo, Dewan Perumus Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM P2L), serta para mahasantri Marhalah Ula Ma’had Aly Lirboyo. Kehadiran siswa tingkat III Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Pesantren Lirboyo juga semakin menambah semarak kegiatan tersebut.

Sebagai pemateri pertama, Agus M. Sholahuddin Al-Ayyubi, M.Ag mengawali paparannya dengan mengulas definisi dan hakikat nasionalisme religius. Ia menegaskan bahwa nasionalisme religius merupakan bentuk sinergi antara agama dan bangsa, di mana loyalitas terhadap negara berjalan seiring dengan nilai-nilai religius.

Dalam perspektif Islam Nusantara, konsep ini dipahami sebagai jalan tengah (wasathiyah), yang berada di antara nasionalisme sekuler yang memisahkan agama dari negara dan teo-nasionalisme yang cenderung kaku.

Lebih lanjut, Gus Yubi juga mematahkan anggapan bahwa nasionalisme merupakan produk murni Barat. Secara historis, nilai-nilai kebangsaan telah dipraktikkan oleh Rasulullah SAW melalui Piagam Madinah pada abad ke-7 Masehi, jauh sebelum munculnya revolusi Amerika dan Prancis. Ia juga menjelaskan landasan religius cinta tanah air dengan mengutip pandangan Yusuf Al-Qardhawi, bahwa mencintai tanah air merupakan fitrah kemanusiaan universal.

Keteladanan Nabi Muhammad SAW yang mencintai Makkah sebagai tanah kelahirannya menjadi penguat argumen tersebut, bahkan dalam perspektif teologis, cinta tanah air dipandang sebagai bagian dari manifestasi keimanan.

Menutup sesinya, Gus Yubi mengulas konsep kewarganegaraan (citizenship) dengan menjadikan Piagam Madinah sebagai model kontrak sosial yang mampu menyatukan keragaman. Ia menegaskan bahwa non-muslim dalam Piagam Madinah diakui sebagai satu kesatuan warga negara (ummatun wahidah) dengan hak dan kewajiban yang setara.

Oleh karena itu, ulama kontemporer lebih mengedepankan istilah muwathinin (warga negara) dibandingkan istilah klasik seperti dzimmi atau harbi yang tidak lagi relevan dalam konteks negara bangsa modern.

Paparan materi kemudian dilanjutkan oleh Bpk. Husnul Muttaqin, M.Ag., ia memberikan respons kritis terhadap wacana sistem khilafah yang kerap mengemuka di ruang publik. Ustaz Husnul menegaskan bahwa dalam perspektif syariat, esensi sistem pemerintahan baik republik maupun bentuk lainnya terletak pada kemampuannya menghadirkan keadilan dan kemaslahatan bagi rakyat.

Dengan mengutip pandangan Imam Al-Ghazali, ia menjelaskan bahwa sistem politik dan kebijakan negara termasuk dalam ranah duniawi yang bersifat dinamis dan fleksibel, bukan bagian dari akidah yang dogmatis.

Ia juga mengkritik gagasan khilafah internasional yang dinilai bertentangan dengan prinsip negara bangsa karena cenderung mengabaikan batas nasional dan kedaulatan wilayah. Menurutnya, bagi ulama Nusantara, menjaga keutuhan negara bangsa yang telah ada merupakan kewajiban agama yang harus diutamakan.

Acara berlangsung dengan penuh antusiasme, terlihat dari padatnya peserta dan perhatian serius para hadirin dalam menyimak pemaparan narasumber. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi interaktif bersama para mahasantri.

Melalui bedah buku ini, diharapkan para peserta memperoleh pemahaman yang komprehensif bahwa nasionalisme dan ajaran Islam bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan nilai yang saling menguatkan demi menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Postingan Terkait
Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Gelar Bedah Buku di Malang, Bahas Ekonomi Islam dan Istilah Fikih

Syauqi Multazam

05 Jan 2026

Bedah Buku Karya Mahasantri Lirboyo di Ma’had Aly Putri An-Nur 2 Malang

Ma’had Aly Lirboyo Gelar Dauroh Ilmiah Metodologi Fatwa, Hadirkan Sekjen Darul Ifta Mesir

A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari

01 Jan 2026

Ma’had Aly Lirboyo gelar Dauroh Ilmiah bersama Syekh Dr. Ahmed Mamdouh, Sekjen Darul Ifta Mesir

Jurnal Syariah Edisi Desember 2025 Resmi Terbit, Sajikan Enam Artikel Studi Fiqh

Redaktur

01 Jan 2026

Syariah: Journal of Fiqh Studies Ma’had Aly Lirboyo sudah rilis kembali, sajikan artikel ilmiah tentang fiqih

Kiai Arif Ridlwan Akbar: Bedah Buku Harus Jadi Ruang Istifadah dan Penguatan Daya Kritis Mahasantri

Raden Muhammad Rifqi

18 Des 2025

Pada forum bedah buku, Mudir Ma’had Aly Lirboyo sampaikan pentingnya istifadah soal metodologi turats

Bedah Buku Kritik Ideologi Radikal, Ikhtiar Intelektual Ma’had Aly Lirboyo Hadapi Tantangan Radikalisme

Raden Muhammad Rifqi

18 Des 2025

Ma’had Aly Lirboyo menghadirkan dua narasumber penulis Buku Kritik Ideologi Radikal

Jurnal At-Tahbir Edisi November 2025 Terbit: Suguhkan Lima Artikel Terbaru Studi Al-Qur’an dan Tafsir

Redaktur

30 Nov 2025

At-Tahbir: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Tafsir Ma’had Aly Lirboyo kembali terbit