Kiai Arif Ridlwan Akbar: Bedah Buku Harus Jadi Ruang Istifadah dan Penguatan Daya Kritis Mahasantri
- account_circle Raden Muhammad Rifqi
- calendar_month 18/12/2025
- visibility 174
- comment 0 komentar
- label Berita
Ma’had Aly Lirboyo kembali menggelar agenda ilmiah berupa Bedah Buku Kritik Ideologi Radikal karya wisudawan Ma’had Aly Lirboyo Tahun Akademik 2018–2019, pada Senin (15/25). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium An-Nawawi ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan tradisi keilmuan pesantren dalam menghadapi tantangan zaman.
Dalam sambutannya, Kiai Arif Ridlwan Akbar, selaku Mudir tiga Ma’had Aly Lirboyo menegaskan bahwa Ma’had Aly saat ini dituntut untuk terus berbenah dan berkembang dari sisi kualitas, bukan sekadar bertumpu pada kuantitas. Menurut beliau, secara jumlah dan partisipasi, Ma’had Aly Lirboyo telah berada pada posisi yang sangat kuat.
“Berbicara kuantitas, kita sudah berada di posisi yang sulit ditandingi. Tantangan ke depan adalah bagaimana meningkatkan kualitas keilmuan secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa tradisi ilmiah di pesantren sejatinya telah mapan dan memadai. Namun, apabila dikembangkan dengan format yang lebih sistematis dan relevan, seperti bedah buku, seminar ilmiah, dan diskusi tematik, maka potensi keilmuannya akan semakin besar.
Kiai Arif Ridlwan Akbar juga menyampaikan bahwa tahun ini Ma’had Aly Lirboyo memulai pengembangan agenda ilmiah dengan model bedah buku, dan ke depan tidak menutup kemungkinan untuk mengadakan bedah kitab, diskusi tematik tertentu, serta forum-forum akademik lain dengan format yang lebih modern. Seluruh agenda tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas keilmuan bagi mahasantri Ma’had Aly.
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa tujuan utama dari kegiatan semacam ini adalah istifādah. Dalam konteks ini, istifādah tidak hanya dimaknai sebagai pemahaman terhadap isi buku, tetapi juga mencakup dorongan motivasi intelektual serta pendalaman metodologis.
“Tutor menjelaskan muḥtawiyāt hāżā al-kitāb agar peserta memahami isinya dengan baik dan termotivasi,” jelasnya.
Namun, bagi para qāri’ dan bāḥiṡ (peneliti), istifādah tidak boleh berhenti pada konten semata. Mereka juga dituntut untuk mengambil faedah dari manhaj al-kitābah wa al-ta’līf (metodologi penulisan). Setiap penulis, lanjut beliau memiliki karakteristik metodologis yang berbeda, dan hal tersebut sering kali luput dalam kajian kitab klasik yang hanya berfokus pada isi.
Memasuki jenjang Ma’had Aly, menurut Kiai Arif Ridlwan Akbar, mahasantri akan mulai diperkenalkan dengan metodologi karya dan metodologi penulisan. Tanpa pemahaman metodologis, keagungan karya ulama sulit diserap secara utuh.
“Dengan memahami metodologi karya, kita bisa meniru pola berpikir dan sistematika ulama, sehingga memiliki konsep yang mapan dalam melahirkan karya baru,” tegasnya.
Beliau juga berharap agar buku semacam Kritik Ideologi Radikal ke depan dapat hadir dalam versi yang lebih baru, lebih matang secara konsep, serta lebih kuat dan valid secara substansi. Bahkan, menurutnya, sangat mungkin generasi saat ini para audiens sendiri yang akan menjadi penulis karya lanjutan tersebut.
Dalam pemaparannya, Kiai Arif Ridlwan Akbar turut menyinggung silsilah kitab dalam mazhab Syafi‘i, seperti al-Wajīz, al-Basīṭ, al-Wasīṭ, dan seterusnya, yang masing-masing disusun dengan metodologi berbeda. Hal ini, menurut beliau, menunjukkan bahwa khazanah keilmuan tidak pernah berhenti pada satu bentuk, melainkan terus mengalami pengembangan konseptual.
Ia menyoroti bahwa sebagian kutubussalaf secara sistematika dan konsep kerap dianggap tidak rapi oleh generasi sekarang. Apabila tidak disajikan ulang sesuai dengan rahābah (semangat) dan tipikal pembaca masa kini, maka khazanah tersebut berpotensi matrūk (terabaikan).
“Di sinilah tantangan pesantren salaf sebagai pemegang Khazānah al-Turāṡ al-Salaf. Kita bertanggung jawab penuh menjaga eksistensinya dengan kemampuan menulis dan menyajikan ulang secara sistematis dan konseptual,” ujarnya.
Sebagai contoh konkret, beliau menyebut buku Kritik Ideologi Radikal sebagai karya yang bersumber dari turats klasik, namun dikemas dan disajikan dengan format yang baik, rapi, dan relevan dengan kebutuhan kontemporer.
Selain itu, faedah penting dari kegiatan bedah buku ini adalah tanwīr al-naqd al-fikrī, yakni pengembangan daya kritis. Tidak hanya beristifādah, peserta juga dilatih untuk membangun daya munāẓarah yang seimbang, diskusi yang sehat, serta kritik yang adil dan proporsional.
Meski mengusung konsep yang relatif baru dan modern, beliau mengingatkan agar tradisi bedah buku tetap menjaga akar diskusi khas pesantren, sebagaimana telah mapan dalam Baḥṡul Masā’il, pertanyaan dan sanggahan yang sederhana, tepat sasaran, tidak bertele-tele, namun produktif.
Menutup sambutannya, Mudir tiga Ma’had Aly Lirboyo tersebut menegaskan bahwa inti dari kegiatan ini mencakup tiga hal utama yakni istifādah isi buku, istifādah metodologi penulisan dan penyusunan karya, serta tanwīr al-naqd al-fikrī atau penguatan daya kritis.
Beliau berharap agar seluruh rangkaian agenda ini, dari awal hingga akhir, benar-benar membawa keberkahan dan kemaslahatan, baik di dunia maupun di akhirat.
Editor: A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Pewarta: Raden Muhammad Rifqi
(Mahasantri Semester II Marhalah Ula Ma’had Aly Lirboyo)

Saat ini belum ada komentar