Beranda » Artikel » Daurah Ilmiah Ilmu Hadis Aswaja Bersama Syekh Dr. Muhyiddin Awwamah (3): Integritas Seorang Muhaddis: Etika dalam Meriwayatkan dan Mencatat Hadis

Daurah Ilmiah Ilmu Hadis Aswaja Bersama Syekh Dr. Muhyiddin Awwamah (3): Integritas Seorang Muhaddis: Etika dalam Meriwayatkan dan Mencatat Hadis

Dalam Ilmu Hadis, keilmuan tak bisa dilepaskan dari etika dan adab. Syekh Dr. Muhyiddin Awwamah dalam daurah ilmiahnya pertemuan ketiga menekankan pentingnya integritas seorang muhaddis, dari cara meriwayatkan dan mencatat hadis hingga adab dalam belajar dan mengajarkan ilmu hadis:

Etika dalam Meriwayatkan dan Mencatat Hadis

Integritas seorang muhaddis sangat ditekankan melalui adab-adab berikut:

  • Adab Sa’id bin Musayyab

Syekh Muhyiddin Awwamah mencontohkan etika mulia dari Sa’id bin Musayyab (atau Musayyib). Ketika ditanya tentang hadis saat berbaring, beliau segera duduk sebelum meriwayatkan, menunjukkan penghormatan tinggi terhadap sabda Nabi SAW dan keengganan meriwayatkan dalam keadaan yang kurang sempurna.

  • Peringatan dalam Penulisan Hadis

Beliau menegaskan bahwa “Orang yang mencari hadis dalam keadaan berdiri maka ia menulis kesalahan.” Ini merupakan metafora untuk menekankan bahwa menuntut ilmu, khususnya hadis, memerlukan fokus penuh dan keseriusan, bukan dilakukan dengan tergesa-gesa atau ceroboh.

  • Menghormati Majelis Hadis

Mengeraskan suara di samping orang yang membaca hadis dianggap sama dengan meninggikan suara di hadapan Nabi SAW. Ini adalah bentuk penghormatan luar biasa terhadap hadis sebagai sunah Nabi SAW, yang selaras dengan firman Allah dalam Surat Al-Hujurat Ayat 2:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَه بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain.” (Q.S. Al-Hujurat: 2)

  • Larangan Laqob yang Tidak Disukai

Penggunaan laqob (nama panggilan atau gelar) yang tidak disukai seseorang harus dihindari, kecuali jika tujuannya adalah untuk pembeda yang jelas.

Pentingnya Adab dalam Belajar Ilmu Hadis

Adab menuntut ilmu menjadi sorotan utama dalam daurah ini, menunjukkan bahwa ilmu dan adab berjalan beriringan:

  • Penguasaan Materi Awal

Jika seorang pelajar tidak menguasai sepenuhnya materi sebelumnya yang musykilat (sulit), dikhawatirkan mereka akan kesulitan memahami materi-materi selanjutnya. Ini menekankan pentingnya pembelajaran yang sistematis dan tuntas.

  • Niat yang Ikhlas

Seyogianya, setiap muslim belajar dengan niat yang ikhlas semata-mata untuk mencari ridha Allah, bukan untuk menggapai tujuan duniawi.

  • Kemuliaan Penuntut Ilmu Hadis

Ditekankan bahwa bilamana seseorang belajar ilmu hadis, ia seolah-olah berjalan di sayap malaikat, sebuah ungkapan yang menggambarkan kemuliaan dan keberkahan yang menyertai penuntut ilmu hadis.

  • Prioritas Adab

Imam Malik menghabiskan 20 tahun untuk belajar adab dan 20 tahun sisanya untuk belajar ilmu hadis. Ini menunjukkan betapa adab dipandang lebih fundamental daripada ilmu itu sendiri. Oleh karena itu, mushannif (penulis) Kitab Taudih mendahulukan bab adab belajar dari bab-bab lain agar bisa langsung dipraktikkan.

Etika Khusus bagi Muhaddis

Syekh Muhyiddin Awwamah juga menguraikan etika spesifik bagi muhaddis:

  • Tidak Mengajarkan Hadis kepada Sembarang Orang

Muhaddis tidak boleh mengajarkan hadis kepada non-Muslim, pelaku bid’ah, atau orang fasik. Tujuannya adalah untuk menjaga kemurnian hadis agar tidak disalahgunakan atau disia-siakan. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُمْ

Artinya: “Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi.”

  • Mengingatkan Pendengar Hadis yang Gaduh

Muhaddis hendaknya mengingatkan pendengar yang ramai di tengah pembelajaran. Kegaduhan di majelis hadis diibaratkan dengan meninggikan suara di hadapan Nabi SAW, yang dilarang dalam Al-Qur’an.

  • Menahan Diri dari Meriwayatkan Hadis jika Berpotensi Kekeliruan

Diantara adab seorang muhaddis wajib menahan diri untuk tidak lagi meriwayatkan hadis jika ada potensi melakukan penambahan atau pemalsuan hadis, baik karena faktor usia, penurunan daya ingat, atau hal lainnya. Ini adalah bentuk menjaga integritas riwayat Nabi SAW.

Dengan demikian, pada pertemuan ketiga daurah ini Syekh Dr. Muhyiddin Awwamah menegaskan bahwa Ilmu Hadis bukan hanya tentang teks dan sanad, tetapi juga tentang pembentukan karakter, adab, dan integritas seorang ulama.


Editor: A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari

Penulis: Muhammad Athoillah

(Mahasantri Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less