Alumnus Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo Hidupkan Pengajian Kitab Turāth di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia
- account_circle Muhammad Bagus Fatichur Ridlo
- calendar_month 6/02/2026
- visibility 40
- comment 0 komentar
- label Berita
Surau Al-Falah yang berada di kompleks Kolej Aminuddin Baki, Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), kembali hidup oleh denyut tradisi keilmuan Islam klasik. Selama empat minggu penuh, Institut Penyelidikan dan Pendidikan Tahfiz & Turath Islami bekerja sama dengan Persatuan Pendidikan Islam (PPI), Persatuan Pendidikan Tahfidz al-Qur’an dan Qira’at (PTQ), serta Persatuan Turath Islami (PTI) UPSI menyelenggarakan Pengajian Kitab Turāth (PKT) secara intensif. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah alumnus Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo yang tengah menempuh studi double degree di kampus tersebut sebagai pengisi utama.
Kegiatan berlangsung setiap Senin, Selasa, Rabu, dan Jumat selepas salat Maghrib. Pola pengajian disusun secara tematik sesuai hari, sehingga peserta memperoleh spektrum keilmuan yang utuh, meliputi tafsir, akidah, hadis, dan fikih. Adapun kitab yang dikaji meliputi:
-
Senin malam: Tafsir Jalalain
-
Selasa malam: Jauharat al-Tauhid
-
Rabu malam: Arba’in Nawawi
-
Jumat malam: Fath al-Qarib al-Mujib
Peserta kegiatan terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi yang telah mendaftar sebelumnya. Tercatat, sebanyak 228 mahasiswa mengikuti kegiatan ini yang terbagi dalam beberapa kelas. Kehadiran mereka mencerminkan tingginya minat generasi muda terhadap khazanah turāth Islam, khususnya dalam format halaqah tradisional yang jarang ditemui di lingkungan kampus modern.
Para alumnus Ma’had Aly Lirboyo menyampaikan materi dengan metode khas pesantren, meliputi pembacaan teks Arab, pemaknaan, penjelasan gramatikal, serta penguraian makna substantif yang diakhiri dengan sesi tanya jawab. Model ini tidak hanya menjadi sarana transfer informasi, tetapi juga transmisi adab ilmiah dan pandangan hidup pesantren. Peserta diajak bukan sekadar memahami isi kitab, melainkan juga cara berpikir ulama klasik dalam membaca realitas.
Salah satu pengisi kajian, Ahmad Rosyid Alfuadi, M.F.U., menjelaskan bahwa tantangan utama dalam mengajar bukan terletak pada kemampuan akademik peserta, melainkan pada perbedaan latar kebahasaan antara dirinya sebagai mahasantri dari Indonesia dan para peserta yang mayoritas berasal dari Malaysia.
“Secara struktur kita sama-sama berbahasa Melayu, tetapi dalam praktiknya banyak istilah, intonasi, dan ungkapan yang berbeda. Kadang satu kata yang biasa di Indonesia justru terdengar asing di sini, dan sebaliknya,” ungkapnya. Ia mengaku harus lebih peka dalam memilih diksi dan sering mengulang penjelasan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Meski demikian, perbedaan tersebut justru terasa indah karena disambut dengan antusiasme tinggi dari para peserta. “Mereka sangat bersemangat, rajin hadir, dan aktif bertanya. Itu membuat kami merasa diterima dan termotivasi. Di tengah perbedaan bahasa, semangat menuntut ilmu menyatukan kami,” tuturnya dengan penuh rasa syukur.
Melalui kegiatan ini, PPI UPSI tidak hanya menyelenggarakan agenda rutin keagamaan, tetapi juga menghadirkan ikhtiar peradaban: menanamkan kembali hubungan langsung dengan sumber-sumber klasik Islam. Pada sesi pembukaan, Prof. Madya Mohd Noor menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya menyambung sanad keilmuan kepada ulama-ulama terdahulu.
Dengan mengkaji turāth, mahasiswa diharapkan dapat mengenal khazanah keilmuan Islam langsung dari sumber aslinya. Empat minggu pengajian ini menunjukkan bahwa kitab kuning tidak kehilangan maknanya. Dengan metode penyampaian yang tepat, ia tetap hidup dan relevan, bahkan di tengah suasana kampus yang serba modern.

Saat ini belum ada komentar