BP Ekstra MHM dan Ma’had Aly Lirboyo Gelar Seminar Ilmiah Falak Perdana, Padukan Teori dan Praktik Lapangan
- account_circle Muhamad Andi Suryono
- calendar_month 3/05/2026
- visibility 281
- comment 0 komentar
- label Berita
Kediri — Badan Pengelola Ekstrakurikuler (BP Ekstra) Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan Ma’had Aly Lirboyo sukses menyelenggarakan seminar falak pada (3/5/2026) di Aula An-Nawawy. Kegiatan ini menjadi seminar ilmiah falak pertama yang diselenggarakan dalam format besar, dengan diikuti lebih dari seratus mahasantri.
Sebelumnya, kajian ilmu falak di Ma’had Aly Lirboyo umumnya berlangsung dalam bentuk halaqah di ruang-ruang kelas. Melalui seminar ini, penyelenggara menghadirkan suasana belajar yang lebih luas dan interaktif sehingga wajar jika kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari para peserta.
Hadirkan Para Dosen Takhassus Falak
Kegiatan dimulai pukul 10.00 WIB pagi dengan menghadirkan delapan dosen takhassus pengampu mata kuliah falak. Ilmu falak sendiri merupakan salah satu disiplin yang cukup istimewa dalam kurikulum Marhalah Ula, dan hanya diajarkan kepada mahasantri semester akhir (Semester V).
Turut hadir jajaran Mudir Ma’had Aly, di antaranya K. M. Aminulloh Mahin, M.Pd., K. Arif Ridlwan Akbar Imam, Bpk. M. Rifa’i Bachrun, M.Ag., Bpk. Alfain Fahmi, dan Bpk. Fathur Rachman Mudhoffar, M.Ag..
Para dosen pengampu falak yang hadir sekaligus menjadi pemateri dan pembimbing antara lain Kiai Zakariya Yusa’, Bpk. M. Asmujib Mashudi, Bpk. M. Nur Hafidz, Bpk. M. Ahyad Balya, Bpk. M. Abdul Lathif Kusnan, Bpk. Ma’mun Izzul Azka, Bpk. Syaifulloh Nasrul Hamsa, dan Bpk. A. Athoillah Syu’aib.
Kegiatan ini berada di bawah koordinasi BP Ekstra, dengan kehadiran langsung Ketua Bidang, Bpk. Abdul Mu’ti Ashiddiqy, M.Ag., beserta anggotanya yang memastikan acara berjalan dengan lancar.
Sambutan dan Penguatan Kurikulum Falak
Seminar dibuka dengan sambutan dari Mudir Dua Ma’had Aly, K. M. Aminulloh Mahin, M.Pd. yang mencairkan suasana melalui penyampaiannya yang ringan namun penuh makna.
Selanjutnya, Mudir Tiga, K. Arif Ridlwan Akbar Imam, memberikan arahan sekaligus menyoroti pentingnya kitab Tashilul Amtsilah sebagai rujukan utama dalam kurikulum falak di Ma’had Aly.
Beliau menegaskan bahwa kitab tersebut tidak hanya membahas falak secara teknis, tetapi juga mengintegrasikan aspek fikih yang berkaitan erat dengan praktik falakiyah.
Menurutnya, keseimbangan antara ilmu falak dan fikih menjadi hal penting agar tidak terjadi ketimpangan pemahaman di kalangan praktisi falak.
Sesi Inti: Pembahasan dan Kisah Inspiratif
Memasuki sesi inti, kegiatan dipandu oleh Kiai Zakariya Yusa’, salah satu dosen takhassus senior sekaligus menjabat sebagai Anggota Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dalam pemaparannya, ia menguatkan pentingnya pemahaman komprehensif antara teori dan praktik.
Beliau juga membagikan pengalaman menarik ketika kitab Tashilul Amtsilah pernah digunakan untuk menyelesaikan perbedaan arah kiblat di sebuah masjid. Tanpa perdebatan panjang, ia cukup meminta pihak yang berselisih untuk membaca dan memahami isi kitab tersebut hingga akhirnya tercapai kesepakatan bersama.
Kisah tersebut menjadi bukti nyata bahwa literatur klasik yang dikaji secara tepat mampu menjawab persoalan praktis di tengah masyarakat.
Format Kelompok Interaktif
Menariknya, seminar ini menggunakan metode pembelajaran berbasis kelompok. Sejak awal, panitia telah membagi peserta menjadi delapan kelompok, masing-masing terdiri dari sekitar 30 orang.
Beberapa dosen bertugas mempresentasikan materi, sementara lainnya mendampingi setiap kelompok secara langsung. Interaksi berlangsung intensif, dengan dosen memberikan arahan sekaligus meluruskan pemahaman peserta yang kurang tepat.
Sesi ini berlangsung selama kurang lebih setengah jam, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Tercatat tiga peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait materi falak yang telah disampaikan.
Praktik Penentuan Arah Kiblat
Sebagai puncak kegiatan, peserta mengikuti praktik langsung penentuan arah kiblat di luar ruangan. Kegiatan ini dilaksanakan di dua titik yakni di sebelah utara Masjid Al-Hasan dan di halaman Gedung An-Nawawy.
Sebelum praktik dimulai, panitia menutup sesi seminar secara formal dengan doa yang dipimpin oleh Bpk. M. Asmujib Mashudi. Selanjutnya, peserta bersama dosen pembimbing melaksanakan praktik lapangan dengan peralatan yang telah disediakan.
Meski berlangsung di bawah terik matahari, para mahasantri tetap menunjukkan semangat tinggi. Mereka mengelilingi alat ukur kiblat, mengamati, dan mencoba memahami proses perhitungan secara langsung, meskipun bagi sebagian besar peserta hal ini masih tergolong pengalaman baru.

Mahasantri tengah mempraktikkan teori falak di lapangan. (Foto: Div. Media Ma’had Aly Lirboyo)
Hasil dan Harapan ke Depan
Sekitar pukul 14.30 WIB siang, seluruh kelompok berhasil menentukan arah kiblat berdasarkan teori yang telah dipelajari. Kegiatan pun ditutup dengan evaluasi singkat oleh para dosen pembimbing, sebelum para peserta kembali ke asrama masing-masing.
Penanggung jawab kegiatan dari BP Ekstra, Bpk. Muhyi Abdul Qodir, menyampaikan bahwa seminar ini sengaja dikemas dalam skala besar untuk meningkatkan minat mahasantri terhadap ilmu falak.
“Seminar ini kami adakan untuk memantik semangat mahasantri dalam mengikuti kursus ilmu falak,” ujarnya.
Ia juga optimistis terhadap perkembangan minat tersebut, mengingat jumlah peserta kursus falak terus meningkat setiap tahunnya.
Melalui seminar ilmiah falak perdana ini, Ma’had Aly Lirboyo menegaskan perannya dalam mengintegrasikan tradisi keilmuan klasik dengan pendekatan astronomi modern, sekaligus menghadirkan pembelajaran yang aplikatif dan relevan bagi kebutuhan umat. (ed. Zaeini)

Saat ini belum ada komentar