Home » Liputan Khusus » KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus Tegaskan Pentingnya Mondok dan Mengaji Kitab di Bulan Ramadan

KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus Tegaskan Pentingnya Mondok dan Mengaji Kitab di Bulan Ramadan

A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari 09 Jan 2026 45

Tim Redaksi mahadalylirboyo.ac.id berkesempatan melakukan wawancara eksklusif bersama KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri pada Selasa (6/26) di kediaman beliau.

Dalam kesempatan tersebut, kiai yang akrab disapa dengan Kiai Kafabihi itu menyampaikan sejumlah penjelasan penting terkait pengajian kitab di bulan Ramadan, mulai dari motivasi, penataan niat, hingga pengalaman pribadi beliau dalam mengikuti kegiatan pondok Ramadan.

Motivasi dan Keutamaan Mengaji Kitab di Bulan Ramadan

Menjawab pertanyaan mengenai keutamaan dan manfaat ngaji kitab di bulan Ramadan, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menekankan pentingnya sikap ta’dzhim santri terhadap bulan suci dan tradisi keilmuan pesantren.

“Kami segenap dzuriyyah KH. Abdul Karim, khadim Pondok Pesantren Lirboyo Kediri berharap kepada santri Lirboyo semuanya agar di bulan Ramadan menghargai, menghormati, dan ta’dzhim,” ujar beliau.

Salah satu bentuk penghormatan itu, lanjutnya, adalah dengan mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di pondok pesantren, khususnya di Pondok Pesantren Lirboyo sejak awal Ramadan atau bahkan sebelumnya.

Menurut beliau, santri yang mondok sejatinya telah berkomitmen untuk menempuh pendidikan agar ilmunya bermanfaat dan barokah. “Santri mondok itu sebenarnya sudah kontrak. Selama kalian mondok di Lirboyo, harapannya supaya ilmunya berhasil, bermanfaat, dan barokah,” tegasnya.

Karena itu, santri diminta mengikuti arahan para kiai dan masyayikh, terlebih ketika ada pengajian khususnya di bulan Ramadan, yang jelas hasilnya karena kitab yang dikaji bisa khatam.

“Intinya, sekolah itu sebagai lantaran untuk bisa mengaji kitab. Dan bulan Ramadan itulah ujung kesempatan untuk mengikuti pengajian-pengajian kitab yang dibacakan para Masyayikh Lirboyo,” tambah beliau, sembari berharap santri senantiasa patuh pada bimbingan para masyayikh selama mondok di Lirboyo.

Menata Niat dalam Menuntut Ilmu

Terkait niat santri dalam mengikuti pengajian Ramadan, Kiai Kafabihi menegaskan bahwa setiap amal membutuhkan niat dan keikhlasan. “Tentu semuanya amal itu membutuhkan niat dan ikhlas yang harus kita usahakan,” ujarnya.

Beliau mengingatkan agar santri meniatkan pengajian Ramadan sebagai bentuk ta’dzhim kepada masyayikh dan para kiai. “Ketika kalian mengikuti pengajian di bulan puasa Ramadan ini, niatkan juga ta’dzhim kepada masyayikh dan guru-guru kalian,” tutur beliau.

Tradisi pesantren di bulan Ramadan yang mengajak santri mengaji hingga khatam kitab, menurutnya, merupakan ciri khas yang sarat dengan nilai penghormatan dan menjadi jalan untuk meraih ilmu yang benar-benar bermanfaat.

Hal Utama yang Harus Dijaga Selama Ramadan

Dalam menjelaskan hal-hal utama yang harus dijaga santri selama Ramadan, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menekankan terhadap peningkatan ketaatan kepada Allah SWT. “Ketika bulan Ramadan, kita tingkatkan taat kepada Allah dan menjaga tubuh kita,” ujar beliau.

Ramadan, lanjutnya adalah kesempatan besar untuk mendekatkan diri kepada Allah karena pahala dilipatgandakan dan ketaatan dimudahkan. Oleh sebab itu, santri diminta memanfaatkan bulan suci ini dengan sebaik-baiknya. “Amal yang terbaik itu adalah ilmu, yaitu kita mencari ilmu,” tegasnya.

Dengan ilmu, menurut beliau, seseorang diharapkan dapat meraih kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat. Karena itu, santri diminta bersungguh-sungguh dalam beribadah dan berpuasa, serta mengikuti pengajian-pengajian Ramadan.

“Bilamana puasa kita diterima oleh Allah, maka setelah Ramadan kita akan dimudahkan untuk bertakwa dan beribadah kepada Allah,” jelasnya.

Pengalaman Pribadi Mengikuti Pondok Ramadan

KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus juga turut membagikan pengalaman pribadi beliau saat mengikuti pengajian di bulan Ramadan.

“Pengalaman kami, ketika mengikuti pengajian-pengajian di bulan Ramadan, dengan waktu yang singkat kita bisa mengkhatamkan kitab Bukhori, Muslim, Ihya Ulumiddin, dan Fathul Wahab,” ungkap beliau. Kitab-kitab tersebut, menurutnya, jika dibaca di hari biasa bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Hal itu menunjukkan bahwa Ramadan adalah kesempatan bagi santri untuk mengaji kitab dari awal hingga akhir secara khatam.

“Apalagi mengaji kitab itu didoakan oleh guru kita dan oleh muallif-muallifnya. Orang yang banyak mengaji kitab tentu berbeda dengan orang yang hanya banyak membaca kitab,” tegasnya. Semakin banyak guru, lanjut beliau maka semakin besar pula keberkahan yang diperoleh.

Karena itu, Ramadan disebut sebagai kesempatan emas bagi santri. “Sangat eman (Red: disayangkan) sekali bilamana bulan Ramadan kalian tidak mondok,” ujar beliau.

Meski santri nantinya bisa pulang setelah tanggal 20 Ramadan untuk berkhidmah kepada orang tua, Kiai Kafabihi menegaskan bahwa mondok di bulan Ramadan juga merupakan bentuk khidmah kepada orang tua, guru, dan para kiai.

Beliau kemudian menyinggung teladan para ulama terdahulu yang tetap mondok di bulan Ramadan meski telah berkeluarga. Ayahandanya, Almaghfurlah KH. Mahrus Aly, misalnya tetap mondok di Pesantren Tebuireng untuk mengaji kepada Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, bahkan ketika sudah memiliki anak sekalipun KH. Mahrus Aly masih menyempatkan mondok di Watucongol kepada KH. Dalhar.

“Orang-orang dahulu itu walaupun sudah punya anak dan keluarga, tetap mengikuti pengajian di pondok pesantren ketika bulan Ramadan,” tegas Kiai Kafabihi.

Menutup dawuhnya, beliau mengajak para santri masa kini untuk meneladani ulama terdahulu. “Mari kita perbaharui niat kita, mari kita peduli. Mondok di pondok pesantren ketika bulan Ramadan ini merupakan kesempatan emas,” pungkas beliau.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Postingan Terkait
Eksklusif: Dubes Malaysia Ungkap Alasan Mengkaji Fikih Kebangsaan ala Lirboyo

Syauqi Multazam

28 Sep 2025

Berikut hasil wawancara eksklusif redaktur dengan Kedubes Malaysia terkait kunjungan ke Ma’had Aly Lirboyo

Dari Ma’had Aly Lirboyo ke Yordania: Perjalanan Arif Rahman Hakim Meraih Studi Doktoral

Redaktur

10 Jul 2025

Berikut ini perjalanan alumnus Ma’had Aly Lirboyo raih studi doktoral di Yordan

KH. Asep Jaelani Lc., M.A. Bagikan Kiat-Kiat Agar Produktif dalam Menulis Kitab

Syauqi Multazam

18 Jun 2025

Berikut sejumlah kiat agar produktif dalam menulis kitab hasil wawancara eksklusif dengan Kyai Asep

Pengolahan Sampah Plastik di Pondok Lirboyo Sebagai Langkah Kongkrit Menuju Pesantren Eco-Friendly

M. Jihad Al-Khoiri

23 Apr 2025

Pondok Lirboyo tak hanya mengatasi persoalan sampah plastik, tetapi juga memberi teladan sebagai pesantren ramah lingkungan